Kamis, 30 April 2009

Hari Pendidikan Nasional 2009

Dalan rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional 2009 DPP FGII dan Gedung Indonesia Menggugat Gelar acara "Suara Rakyat" Pesan Pendidikan untuk para Capres akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 2 Mei 2009 mulai jam 09.00 s.d 18.00 di Gedung Indonesia Menggugat. setiap peserta akan dberi kesempatan untuk bicara tentang masalah pendidikan selama 3 menit dan hasilnya akan disampaikan kepada para Capres .ayo gabung !

Selasa, 10 Maret 2009

NOTULEN , SEMINAR TTG PP 74 DI DISDIK JABAR

NOTULENSI HASIL SEMINAR FGII KOTA BANDUNG

DI GEDUNG DISDIK JABAR


PERATURAN PEMERINTAH NO 74 TAHUN 2008 TENTANG GURU

DIREKTORAT PROFESI PENDIDIK

OLEH. DRS. ACHMAD DASUKI, MM.MPD (0816774966)

URAIAN MATERI :

- PP74 TURUNAN DARI UU GURU DAN DOSEN

- SEBELUM PP74 2008 KELUAR MAKA SERTIFIKASI DILAK BERDASARKAN FATWA DARI DPR

- SERTIFIKASI GURU MENGGUNAKAN UJI FORTOFOLIO

- LANDASAN HUKUM UUD45 PASAL 5 AYAT 2, UU NO 20 THN 2003 DAN UU NO 14 THN 2005

- PP74 2008 TERDIRI DAI 9 BAB, 68 PASAL, DAN PENJELASAN

- BAB 1

- PASAL 1, BERISI DEFINISI GURU, KUALIFIKASI AKADEMIK, SERTIFIKASI, SERTIFIKAT PENDIDIK, GAJI, ORGANISASI PROFESI PENDIDIK, PERJANJIAN KERJA,GURU TETAP, GURU DALAM JABATAN

SERTIFIKASI SD 2015, .2015 SELANJUTNYA DILAKUKAN PRAJABATAN CALON GURU BERHUB DG KUALIFIKASI GURU

- BAB 2

- PASAL 2, BERISI KOMPETENSI DAN SERTIFIKASI

SIASAT, SELAIN MENGAJAR DI TEMPAT ASAL, BS MENCARI TAMBAHAN DI SEKOLAH LAIN ATAU BKM2 TTP YANG DI AJARKAN HRS SESUAI DG KUALIFIKASINYA

- PASAL3, KOMPETENSI, KOMPETENSI GURU

- PASAL4, SERTIFIKASI DIPEROLEH MELALUI PROGAM PENDIDIKAN PROFESI, PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI HANYA DIIKUTI OLEH GURU YG SDH S1/D4

- PASAL6, BERISI TTG BEBAN BELAJAR PENDIDIKAN PROFESI HARUS S1/D4 DENGAN BEBAN BELAJAR 18-20 SKS ATAU 36-40 SKS

- PASAL8 SERTIFIKAT PENDIDIK HRS TRANSPARAN, OBYEKTIF DAN AKUNTABEL

- PASAL 9 JUMLAH PESERTA PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DITENTUKAN OLEH MENTRI

- PASAL 10, SERTIFIKAT PENDIDIK HRS DIMILIKI SEBELUM DIANGKAT, DAPAT DIANGKAT APABILA PUNYA KEMAMPUAN KHUSUS DAN DIBUTUHKAN OLEH DAERAH SETELAH UJI KELAYAKAN.

- PASAL 11, SERTIFIKAT BERLAKU SELAMA ORG TSB AKTIF MENJADI PENDIDIK.

- PASAL 14, TTG ANGGARAN UTK PENINGKATAN KUALIFIKASI AKADEMIK DAN UJI KOMPETENSI SERTIFIKASI PENDIDIK.

BAB 3

- PASAL 15 DAN 17 TUNJANGAN PROFESI

- PASAL 19, TUNJANGAN FUNGSIONAL DAN SUBSIDI TUNJANGAN FUNGSIONAL

- PASAL 22, TUNJANGAN KHUSUS

BAB 4

- PASAL 23, KESETARAAN TUNJANGAN

- PASAL 24 DAN 26, MASLAHAT TAMBAHAN

- PASAL 30,31, PENGHARGAAN

- PASAL 36, PROMOSI

- PASAL 37, PENILAIAN, PENGHARGAAN DAN SANKSI

- PASAL 40, PERLINDUNGAN DAN HAK

- PASAL 43, AKSES MEMANFAATKAN SANPRAS

- PASAL 44, KEBEBASAN BERSERIKAT DLM ORGANISASI PROFESI

- PASAL 45, BERPERAN DLM MENENTUKAN KEBIJAKAN PENDIDIKAN

- PASAL46,47 DAN 48 MENINGKATKAN KUALIFIKASI PENDIDIK,KOMPETENSI DAN KEPROFESIONALAN

- PASAL 50 SD 54, CUTI

- PASAL 55 WAJIB KERJA POLA IKATAN DINAS

- GURU 4B, S2,S3 DST DAPAT LANGSUNG SERTIFIKAT PENDIDIK

- GURU YG BLM S1 TAPI USIA 50 MASA KERJA 20THN DPT DISERTIFIKASI

PERTANYAAN :

SESI I :

1. SUHARTI SMP 45 BDG DAN SMK BUSTANUL ULUM

- GOL 4A, SUDAH S2, BISA TDK LULUS OTOMATIS KRN SUDAH BANYAK PRESTASI

- HADIAH LAPTOP KPD KADIS PROV JABAR

2. ERSON, SMK PRAKARYA BDG

32 TAHUN MASA KERJA BS OTOMATIS

JAWAB :

YG BS ADALAH GOL 4B DAN MINIMAL S2

3. ROMI TAUFIK DARI YOGYAKARTA GURU PEMBANGUNAN (DR THN 1981)

- GURU SWASTA YG LULUS SERTIFIKASI DR 2007, TP BLM MENDAPAT TUNJANGAN SERTIFIKASI

- BEBAN MENGAJAR

JAWAB :

BERKAS BELUM LENGKAP :

BELUM ADA PERNYATAAN 24 JAM BEBAN MENGAJAR, PROSES PENGGAJIAN, …….

4. ……, DR GARUT

- GURU SD YG MENGIKUTI DAN SDH DPT TUNJANGAN, TP PINDAH KE JENJANG LAIN

JAWAB :

BOLEH BYK SERTIFIKAT TP YG DIBAYARKAN HANYA 1, JK PINDAK JENJANG MAKA HRS MENGIKUTI SERTIFIKASI MATA PELAJARAN

MATERI TTG SERTIFIKASI BAGI PENGAWAS SEKOLAH DALAM JABATAN

OLEH DRS. Mas Hari Sanyoto, MM

Kasubdit Diknas dan SLB

Direktorat Tenaga Kependidikan

URAIAN MATERI :

1. PENINGKATAN MUTU PENDIDIK OLEH PENGAWAS

2. PENGAWAS HRS MEMILIKI 6 KOMPETENSI

· KEPRIBADIAN

· SOSIAL

· SUPERVISI MANAJERIAL

· SUPERVISI AKADEMIK

· EVALUASI PENDIDIKAN

· PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

3. INTERVENSI PROGRAM

4. JUMLAH PENGAWAS SEKOLAH

5. PENGAWAS SEKOLAH BERDASARKAN TINGKAT PENDIDIKAN

6. HASIL TES KOMPETENSI PENGAWAS SEKOLAH DI RIAU, KAB WONOGIRI DAN BBRP WILAYAH

7. TUPOKSI DAN WEWENANG PENGAWAS

8. KONSEP DASAR SERTIFIKASI

9. LANDASAN HUKUM

- UU NO 14 THN 2005

- PP74 BERKAITAN DENGAN SERTIFIKASI GURU PASAL 4 DAN 11

- PERMENDIKNAS NO 16 THN 2007 TTG SERTIFIKASI

- PERMENDIKNAS THN 2009 BELUM DISYAHKAN

- PERMEN NO 74 PASAL 12 DAN PASAL 63 AYAT 5, PASAL 65, 66,67

- KEP MENDIKNAS THN 2009

10. JALUR SERTIFIKASI GURU

11. SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN

12. ALUR SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN

13. PEMBAGIAN KUOTA DAN DASAR PERHITUNGAN

14. PENETAPAN PESERTA

15. 10 KOMPONEN FORTOFOLIO

PERTANYAAN2 :

1. SUNGKONO DR SMK 8 BDG

- PASAL 65 BAG B, TTG SYARAT LULUS LANGSUNG PAKAI DAN/ATAU

JAWAB :

GOL IVB DAN MINIMAL S2

2. …….. SMA KRINUS

- BGMN MENENTUKAN PERHITUNGAN MASA KERJA

JAWAB:

SELAMA ADA SK MENGAJAR MAKA PENGALAMAN KERJA DIAKUI DAN DIHITUNG

3. …… PGRI

- BGMN ALUR YTK BS JD PENGAWAS

- BGMN JK SEORANG PENGAWAS TDK MEMPUNYAIN KEMAMPUAN UTK MEMBINA SEKOLAH

- BISA KAH PENGAWAS ALIH JENJANG

JAWAB :

PENGAWAS HRS PUNYA KOMPETENSI, PENGAWAS YANG PINDAH JENJANG BISA SAJA SELAMA PUNYA KOMPETENSI

4. SRI SMA N 2 BDG

JADWAL SERTIFIKASI UTK 2009

JAWAB :

PALING LAMBAT BLN JUNI

5. ……

- PROSES PENILAIAN

- PENGAWAS MSH BYK DR STRUKTURAL, SHG KPD PENENTU KEBIJAKAN UTK MEMBENAHI TTG PENUGASAN PARA PENGAWAS

- PASAL 65 TTG ANGKA KREDIT

- SYARAT YG LULUS LANGSUNG

Senin, 23 Februari 2009

50 Persen Toko Buku "Mati"

Sekolah Jadi Distributor
Senin, 23 Februari 2009Jakarta, Kompas - Dari sekitar 5.000 toko buku yang pernah terdaftar dalam Gabungan Toko Buku Indonesia, saat ini tercatat tinggal sekitar 2.000 toko buku. Keberadaan toko buku yang tersisa itu terpusat di ibu kota provinsi, sedangkan yang berada di kabupaten atau kota serta daerah terpencil sudah tidak ada lagi.
”Untuk menghidupkan kembali toko buku sekaligus untuk menggairahkan penerbitan buku, distribusi buku harus dikembalikan lagi ke toko buku. Jangan seperti sekarang, sekolah pun bisa jadi distributor buku. Akibatnya, toko buku yang ada bangkrut lalu mati,” kata Firdaus Oemar, Ketua Umum Gabungan Toko Buku Indonesia (Gatbi), di Jakarta, Sabtu (21/2).
Menurut Firdaus yang juga Ketua Pusat Buku Indonesia, untuk mengembalikan lagi keberadaan toko buku, terutama di kabupaten/kota, perlu dilakukan terobosan baru dan dukungan kebijakan dari pemerintah. Harus ada kemauan dan komitmen bersama untuk mengembalikan jalur distribusi buku ke toko buku sehingga di kota kecil dan desa-desa bisa muncul kembali toko buku kecil yang menyediakan buku-buku yang dibutuhkan masyarakat.
Selain itu, pemilik toko buku besar bisa saja membuka toko buku-toko buku kecil di daerah. Demikian juga penerbit buku bisa membangun toko buku kecil yang mudah dijangkau masyarakat hingga di pedesaan.
”Upaya ini untuk membuat toko buku yang mati muncul kembali yang berdampak pada tumbuhnya perekonomian dan minat terhadap buku, baik buku pendidikan maupun buku bacaan lainnya,” kata Firdaus.
Toko buku mobil
Salah satu terobosan yang digagas Pusat Buku Indonesia untuk memperbanyak toko buku di kabupaten/kota adalah dengan menciptakan model toko buku mobil. Pada 2009 ditargetkan ada 1.000 toko buku mobil di berbagai wilayah di Indonesia, terutama untuk melayani kebutuhan siswa dan sekolah terhadap buku pelajaran.
Firdaus menjelaskan, saat ini sudah ada pesanan sekitar 80 mobil dari berbagai daerah. Masyarakat umum juga bisa memesan toko buku mobil untuk menjalankan penjualan buku di daerahnya.
Program ini juga didukung bank yang memberikan kredit pembelian mobil toko buku mobil. Untuk satu unit toko buku mobil harganya berkisar Rp 180 juta, sedangkan untuk kebutuhan beragam buku diperkirakan Rp 60 juta.
Agus Sartono, Kepala Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional, mengatakan, pemerintah mendukung inisiatif masyarakat untuk bisa menggairahkan penerbitan dan pemasaran buku ke masyarakat.
Pada acara Rembuk Nasional Pendidikan 2009 yang dihadiri kepala dinas pendidikan seluruh Indonesia dan pemangku kepentingan pendidikan lainnya pada Senin ini, model toko buku mobil secara resmi diluncurkan Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo.
”Model toko buku mobil ini bisa mendukung menyebarkan buku sekolah elektronik yang sudah dibeli hak ciptanya oleh pemerintah dalam bentuk buku cetak. Kehadirannya tentu bermanfaat karena masyarakat di daerah pedesaan punya akses yang mudah untuk bisa membeli buku di toko buku,” kata Agus. (ELN)

Senin, 16 Februari 2009

PENUNTASAN HAM MASIH DIRAGUKAN

Kemampuan Tawar Caleg Disangsikan
Senin, 16 Februari 2009
Jakarta, Kompas - Sejumlah kalangan masih menyatakan keraguannya terhadap calon anggota legislatif yang maju dalam Pemilihan Umum 2009, terutama terkait kemampuan dan posisi tawarnya kelak, jika terpilih, dalam menuntaskan berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia pada masa lalu.
Penyikapan itu tampak terasa dalam sejumlah pertanyaan dan pernyataan yang disampaikan aktivis hak asasi manusia (HAM), korban dan keluarga korban pelanggaran HAM, serta anggota Komisi Nasional HAM, Sabtu (14/2) dalam dialog publik di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Jakarta.
Dialog itu, antara lain, dihadiri Faisol Riza, calon anggota legislatif (caleg) dari Partai Kebangkitan Bangsa, Binny Bintarti Buchori dari Partai Golkar, Arif Budimanta dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Sarbini dari Partai Demokrat, Yusuf Warsyim dari Partai Matahari Bangsa, dan Ahmad Yani, caleg dari Partai Persatuan Pembangunan.
”Dalam pemilu, caleg ditopang tiga hal, yakni parpol, pemodal, dan rakyat. Disayangkan, parpol dan pemodal sama-sama punya kemampuan mengawasi sekaligus memberikan sanksi, sementara rakyat paling banter sebatas tak memilih caleg lagi pada pemilu berikutnya,” ujar Arif Priyadi, orangtua Norman Irawan, korban tragedi Semanggi I.
Akibatnya, kemampuan caleg dalam berhadapan dengan parpol atau pemodal dalam memperjuangkan penuntasan pelanggaran HAM masa lalu sangat diragukan. Apalagi, kebanyakan pelaku bersembunyi di balik kedua pilar penopang caleg itu.
Sesuai dengan pengalaman, menurut Arif, dalam banyak kesempatan anggota legislatif terang-terangan mengaku tidak sanggup menghadapi tekanan, baik dari parpolnya maupun dari luar. Walau secara prinsip dan pribadi, mereka mendukung penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu.
Anggota Komnas HAM, Ridha Saleh, juga mengaku sedikit banyak dapat memprediksi kendala dan persoalan apa saja yang akan dialami dan dilakukan caleg yang hadir, jika mereka terpilih. Apalagi, mengingat situasi parlemen yang sangat plural, terfragmentasi, serta banyaknya kepentingan politik yang luar biasa.
”Banyak orang idealis di lembaga legislatif selama ini ternyata juga tidak mampu menghadapi. Apa yang dapat dilakukan Faisol Reza, misalnya, dalam menghadapi kebuntuan di Kejaksaan Agung? Apalagi mengingat Fasiol juga dahulunya pernah menjadi salah seorang korban pelanggaran HAM berat,” ujar Ridha.
Caleg yang hadir juga ditanya bagaimana mereka akan melakukan perubahan serta agenda legislasi menghadapi kebuntuan yang terjadi selama ini. (dwa)

SMK TAH BUTUH UN

Ujian Tidak Relevan Pengaruhi Masa Depan Anak
Senin, 16 Februari 2009
Jakarta, Kompas - Persiapan menghadapi ujian nasional di sekolah menengah kejuruan telah dimulai memasuki semester genap ini. Sekalipun mempersiapkan diri, ujian nasional sendiri dinilai tidak relevan dan sebetulnya tidak dibutuhkan oleh peserta didik di sekolah menengah kejuruan.
Bahkan, ketidaklulusan ujian itu malah menghambat para peserta didik untuk memasuki dunia kerja yang sebetulnya menjadi salah satu motivasi mereka memilih masuk ke sekolah kejuruan.
Wakil Kepala Kurikulum SMKN 15 Bandung sekaligus Ketua DPC Bandung Federasi Guru Independen Indonesia Asep Tapip mengatakan, Minggu (15/2), para murid kelas III telah dipersiapkan menghadapi ujian nasional (UN) sejak masuk ke semester genap melalui pendalaman materi.
”Materi kejuruan telah selesai di kelas II. Begitu memasuki kelas III di semester ganjil, murid praktik kerja lapangan selama enam bulan penuh dan berlanjut dengan persiapan ujian nasional. Tidak ada jam pelajaran kejuruan atau lainnya yang terpakai,” ujar guru yang bergelar doktor bidang kebijakan pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia itu.
Supriyono, guru di SMKN 42 Jakarta sekaligus Ketua Serikat Guru Jakarta, juga mengatakan hal senada. Di sekolah dilaksanakan pendalaman materi mata pelajaran yang diujikan di UN dengan simulasi dan tes kendali mutu. ”Selama enam bulan benar-benar dipersiapkan untuk ujian,” ujarnya.
Tidak relevan
Mereka mempersiapkan murid sebaik-baiknya karena ketidaklulusan dari UN, terutama berupa mata pelajaran umum, Matematika, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia itu, akan sangat memengaruhi masa depan anak.
Namun, ujian itu sendiri dinilai tidak relevan dan dapat menghambat peserta didik untuk mendapat pekerjaan.
Asep mencontohkan, seorang peserta didiknya dua tahun lalu telah mendapatkan pekerjaan di sebuah hotel besar karena praktik kerja lapangannya dianggap sangat baik oleh pihak hotel.
”Hotel itu mengizinkan persyaratan administratif dilampirkan setelah ujian. Pahitnya, dia tidak lulus di Matematika. Padahal, nilai lainnya, seperti Bahasa Indonesia dan Inggris, di atas tujuh. Anak itu batal bekerja. Perusahaan butuh ijazah formal untuk penggajian,” ujarnya.
Asep menambahkan, tahun ini telah ada seorang anak yang diterima bekerja di perusahaan otomotif besar. Dia berharap pengalaman itu tidak terulang.
Paket C, menurut dia, tidak menyelesaikan masalah, tidak terkait dengan belajar keterampilan kejuruan. ”Paket C itu kan setara SMA,” ujar Asep.
Pembelajaran dan ujian murid SMK juga seharusnya kontekstual, terutama dengan kebutuhan peserta didik yang sebagian besar ingin terjun ke pasar kerja. Bahasa Inggris SMK, misalnya, bukan untuk meluluskan SMK, melainkan memberikan bekal ke dunia kerja sesuai bidangnya.
Uji kompetensi yang diselenggarakan SMK dan diperhitungkan dalam rata-rata nilai dan sebetulnya sudah mengandung unsur mata pelajaran utama UN seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika.
”Ketika anak membuat proposal kerja, sudah dipergunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar,” ujarnya. Pendapat serupa dilontarkan Supriyono. Pemerintah seharusnya dapat memahami SMK berbeda dengan SMA.
”Bagi peserta didik SMK yang terpenting agar mereka punya keterampilan dan diakui perusahaan. Bagi yang ingin kuliah biasanya sudah jauh-jauh hari mempersiapkan diri agar dapat memenuhi persyaratan,” ujar Supriyono. (INE)

Minggu, 15 Februari 2009

tautan

Daendels, Sultan Agung dan Jalan Pos

PIERRE HEIJBOER
Lukisan mengenai pertempuran pasukan VOC melawan pasukan Sultan Agung Mataram di bawah pimpinan Bahurekso, tahun 1628. Sebagian Jalan Raya Pos dibangun di atas jalan yang pernah dilintasi pasukan Mataram ketika menyerang Batavia.
/


Herman Willem Daendels yang berkuasa di abad 19 dan Sultan Agung pendiri wangsa Mataram yang berkuasa di abad 17 ternyata memiliki kaitan erat lewat keberadaan Jalan Raya Pos. Sebagian jalur Jalan Raya Pos (Gr ote Post Weg-Red) yang dibangun oleh Daendels merupakan bagian dari jalan desa yang dirintis dan ditempuh pasukan Sultan Agung saat menyerang Batavia tahun 1628 dan 1630.
Sejarawan Mona Lohanda dalam diskusi terbatas dengan KOMPAS menjelaskan, beberapa ruas Jalan Raya Pos merupakan perluasan dari jalan yang pernah dirintis atau digunakan pasukan Sultan Agung dari Mataram. "Sultan Agung bermaksud mengukuhkan kekuasaan di tanah Jawa dengan menyerang Batavia lalu menguasai Banten. Itu sebabnya Kesultanan Banten tidak membantu pengepungan yang dilakukan Sultan Agung terhadap Batavia," ujar Mona yang menerjemahkan arsip VOC sejak tahun 1600-an hingga era Hindia Belanda tahun 1942.
Penulis Belanda Pierre Heiboer dalam Klamboes, Klewang, Klapperbomen Indie Gewonnen en Verloren menulis, semula Sultan Agung tidak memandang Belanda di Batavia sebagai musuh. Namun, sikap Sultan Agung berubah saat dia berusaha mengalahkan Banten.
Heijboer menulis ...Vijanden van Mataram werden ze pas toen ze weigerden de sultan sch epen te lenen voor de verovering van Bantam. Het brach Agoeng tot het besluit ... eerst Batavia veroveren en daarna Bantam yang kurang lebih berarti permusuhan berawal ketika Belanda menolak meminjamkan kapal kepada Sultan Agung untuk menyerang Banten, Sultan Agung pun memutuskan untuk mengalahkan Batavia terlebih dahulu, selanjutnya Banten ditaklukkan.
Sebelumnya, seperti dalam tulisan Pramoedya Ananta Toer, Jalan Pos Jalan Daendels, disebutkan Sultan Agung telah melebarkan kekuasaan dengan menguasai dataran tinggi Priangan. Setiap tahun, para bangsawan Pasundan pun diwajibkan datang ke Mataram sebagai wujud kesetiaan pada Sultan Agung.
Semasa menyerang Batavia, Sultan Agung memiliki dua panglima yakni Bahureksa yang berasal dari suku Jawa dan Dipati Ukur yang merupakan bangsawan Sunda. Pasukan bergerak dari wilayah Jawa Tengah dan dataran tinggi Priangan di Jawa Barat. Salah satu gudang beras pasukan Sultan Agung terdapat di sekitar Cirebon, Jawa Barat dan Tegal, Jawa Tengah. Ribuan rakyat desa dikerahkan menjadi tenaga bantuan untuk mendukung pasukan Sultan Agung.


iwan santosa
Antara Harapan, Kemiskinan, dan Eksploitasi

KOMPAS/ALIF ICHWAN
Minggu, 15 Februari 2009
STANLEY ADI PRASETYO
Adakah hal seaneh seperti yang terjadi setiap Kamis Pahing malam Jumat Pon di Gunung Kemukus? Di kawasan bukit yang terletak di Sragen, Jawa Tengah, ini ada ratusan bahkan ribuan orang mencari keberuntungan dengan cara aneh, yaitu berhubungan seks dengan orang yang bukan pasangannya secara sukarela.
Suasana di kawasan ini pada saat-saat itu lebih mirip pasar malam. Kawasan yang pada hari-hari biasa umumnya temaram tiba-tiba menjadi benderang. Ada banyak warung jajanan, ada penjual pernik-pernik, penjual rokok dan kacang rebus hingga orang yang menyewakan bilik atau tikar secara jam-jaman untuk kepentingan short time.
Awalnya legenda
Apa hubungan antara keberuntungan dan syahwat? Awalnya adalah sebuah legenda tentang Oedipus Jawa pada zaman keruntuhan Majapahit akibat menguatnya kerajaan Islam di Jawa Tengah.
Ia seorang pemuda ganteng bernama Pangeran Samodro, putra Raja Brawijaya, penguasa Majapahit. Ia terlibat dalam cinta terlarang dengan ibu tirinya yang juga selir Brawijaya, Nyai Ontrowulan. Meski sudah agak tua, Nyai Ontrowulan masih terlihat sangat menawan.
Mereka berdua memutuskan untuk pergi ke Demak Bintoro guna menikah. Namun, sesampai di tempat tujuan ada banyak duda kaya dan prajurit Demak yang jatuh hati kepada Nyai Ontrowulan. Mereka berupaya menggagalkan pernikahan keduanya.
Pangeran Samodro dan ibu tiri beserta para pengawalnya lantas memutuskan untuk lari ke selatan. Saat berada di Gunung Kemukus, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan tak bisa lagi menahan hasrat seksual mereka. Di bawah pohon nagasari, mereka melakukan hubungan seks layaknya suami-istri.
Dasar sial, pasukan Demak Bintoro berhasil menyusul. Keduanya dibunuh pada saat sedang berhubungan seks belum sampai pada puncaknya. Si pangeran dan ibu tirinya lantas dikubur dalam satu lubang. Konon, dalam lubang tempat terbunuhnya mereka itulah muncul sebuah sumber air jernih yang kini disebut sebagai Sendang Ontrowulan. Air sendang ini dipercaya memiliki multikhasiat dan bisa bikin orang awet muda.
Dalam legenda juga dikisahkan munculnya asap, disusul suara di atas makam Samodro dan Ontrowulan yang baru dikuburkan, ”Wahai manusia, barang siapa mau datang ke tempat ini dan bisa menyelesaikan hubungan seks layaknya suami-istri kami yang belum selesai ini tujuh kali, maka segala permintaan kalian akan dikabulkan oleh Dewa Bathara yang Maha Agung.”
Novel ini mengambil Gunung Kemukus sebagai setting cerita. Ada banyak tokoh dalam cerita ini. Ada Meilan, seorang wartawan keturunan China yang menggerutu saat mendapat penugasan untuk meliput Gunung Kemukus. Ada Sarmin, si pedagang bakso yang kalah wibawa dengan istrinya yang bermimpi kehidupannya bisa kembali seperti zaman sebelum ia nikah dan jualan baksonya kembali laris manis. Ada Badrun, juragan tembakau; ada Romo Drajad, seorang hombreng yang punya pengaruh kuat dan berpendapat bahwa fenomena Kemukus adalah sebuah revolusi kultural.
Ada juga tokoh Wati, istri Sarmin, yang terobsesi bisa kawin dengan si pak guru, Mas Bagus. Ada perempuan kelas menengah paruh baya Sri Wahyuni alias Yuyun yang mengikuti dorongan suaminya untuk ngalap berkah ke Kemukus. Ada Parti, seorang perempuan pelacur yang siap memangsa siapa saja lelaki yang baru pertama kali mencoba datang ngalap berkah.
Ada beberapa karakter tokoh antagonis yang kuat dalam novel ini, tetapi karakter yang paling kuat ada pada diri Wati. Istri Sarmin ini digambarkan sebagai perempuan yang menilai suaminya sebagai lembek, goblok, tak pandai menipu dalam menjalankan dagangan baksonya.
Ia terpaksa menikah dengan Sarmin hanya lantaran niatnya untuk menjebak Mas Bagus dengan mengajaknya berhubungan seks dan kemudian mengaku hamil ketahuan oleh orangtuanya. Ia selalu ragu-ragu antara ingin bercerai dan rasa takut bercerai dalam keadaan miskin.
Cara bertutur dalam novel ini betul-betul lancar. Gaya bahasa juga mengalir. Pada beberapa bagian, di mana si tokoh menjadi orang pertama, seperti halnya saat tokoh Wati ngedumel pada dirinya sendiri (hal 51-60), kita sepertinya diingatkan pada gaya Linus G Suryadi dalam Pengakuan Pariyem. Bedanya, Pariyem adalah seorang perempuan yang pasrah, nrimo, dan menikmati sekaligus memuja Den Bagus-nya. Kalau Wati adalah perempuan yang terobsesi bisa menikah dengan Mas Bagus, tetapi tak pernah kesampaian.
Pengetahuan pengarang yang lengkap mengenai sejumlah permasalahan sosial ikut membungkus buku ini dengan berbagai informasi, antara lain mengenai kehidupan warok dan per-gemblak-annya di Ponorogo dan mengenai penyair Wiji Thukul dan Romo Mangunwijaya. Juga cerita tentang hiruk-pikuk pembangunan Waduk Kedung Ombo. Keberpihakan pengarang pada wong cilik tampak jelas dalam novel itu. Demikian pula dengan pemberontakan terhadap kemapanan, yang tampaknya ditampilkan pengarang melalui tokoh Romo Drajad (hal 124-129).
Gambaran irasionalitas bangsa
Apa kaitan ritual Kemukus dengan kehidupan sehari-hari kita? Barangkali setelah membaca novel ini, kita memang perlu mencari jawabannya. Apalagi, cerita tentang pasangan Samodro dan Ontrowulan di Gunung Kemukus itu terjadi pada abad XIV. Artinya, umur legenda kini mencapai lebih dari 600 tahun.
Namun, fenomena Gunung Kemukus kalau kita lihat bukannya kian menyurut. Bahkan, pada malam 1 Suro 2007 jumlah orang yang datang ke Gunung Kemukus dilaporkan mencapai angka 10.000 orang. Pada malam 1 Suro 28 Desember 2008, angka ini dilaporkan jauh membengkak.
Di Kemukus upaya pencarian berkah, tirakat, penyucian diri perselingkuhan, pembersihan diri, kepuasan seksual, dan prostitusi telah campur aduk dengan kepentingan bisnis. Mulai dari bisnis ritual, bisnis esek-esek, hingga bisnis wisata yang mendatangkan masukan bagi kas pemerintah daerah.
Sebagai gambaran, setiap pengunjung Gunung Kemukus dikenai biaya retribusi sebesar Rp 4.000. Itu belum termasuk tarif parkir untuk kendaraan. Artinya, pada saat malam 1 Suro, di mana dilakukan acara membuka kelambu makam Pangeran Samodro, Pemerintah Kabupaten Sragen minimal akan mengantongi pemasukan pendapatan asli daerah sebesar 10.000 x Rp 4.000 atau sebesar Rp 40 juta. Itu hanya semalam.
Di Indonesia, fenomena orang mencari peruntungan juga bukan monopoli masyarakat kecil yang miskin dan nyaris putus asa. Fenomena Kemukus adalah bagian dari irasionalitas bangsa Indonesia yang sebagian masih meyakini bahwa ”laku” dan ”teknik menjalani kehidupan” jauh lebih penting daripada ilmu pengetahuan, manajemen, dan membangun sistem sosial yang lebih adil.
Pada faktanya kita masih kerap menjumpai ada banyak pejabat yang melakukan tetirah ke makam, pergi konsultasi atau mencari jimat ke dukun untuk mendapatkan atau mempertahankan kedudukan.
Untuk kalangan masyarakat bawah, ritual semacam Kemukus merupakan sarana hiburan sekaligus gambaran dari sebuah budaya perlawanan. Melalui ritual inilah nilai kebebasan untuk menikmati seks juga bisa mereka kecap, bukan hanya hak kaum laki-laki bangsawan saja.
Di Kemukus ini pula sebetulnya kaum perempuan bisa menemukan aktualisasi nilai-nilai jender di mana perempuan punya hak yang sama dengan lelaki, terutama untuk mendapatkan ”pasangan tidur” yang diminati.
Stanley Adi Prasetyo Anggota Komisioner Komnas HAM, Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan dan Penikmat Sastra